Gresik, 1 Juni 2014
Kepada: Sayang
Hai sayang, ini
adalah kali kedua ku tuliskan sepucuk surat untukmu. Sepucuk surat yang tak
akan pernah sampai padamu.
Hai sayang, kini
mulai kupandangi lagi bulan dan bintang dimalam gelap. Memulai bercengkrama
dengan mereka, menceritakan kita. Aku sedang bertanya. Apakah kau juga
melakukan hal yang sama? Tidak mungkin...
Tahukah kamu,
sayang. Gambar yang kita kumpulkan disela-sela tawa kini telah menghitam,
seiring menghitamnya perasaanmu. Harus kah aku juga menguburkan semua yang aku
lukis, sayang? Sedang tangan-tangan ini tak sanggup lagi untuk sekedar menepuk
kepala.
Jawablah aku sayang,
jawablah walau melalui bisikan angin di musim kemarau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar