Surabaya, 21 Juni 2014
Kepada: Sayang
Hai sayang.
Ketika seseorang
berkata bahwa embun pagi tadi telah menguap dan tak akan mungkin ku temui lagi,
aku
memutuskan untuk tidur dan menanti embun datang kembali di pagi berikutnya.
Ya, itu yang aku lakukan ketika merindukanmu.
Sesederhana aku
terlelap, sesederhana itu pula aku merindukanmu, sayang...
Sayang, keadaan kita
saat ini, entah harus dengan kata apa aku menyanyikannya. Bukankah menyakitkan
jika hanya bergumam dan bermimpi tanpa ciptaan mimpi yang nyata dalam
genggaman?Ah, mungkin Tuhan ingin aku merindukan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar