5 September 2014

Surabaya, 5 September 2014

Kepada: Sayang

Hai sayang
Malam ini aku merindukan Jogja. Jogja dan kamu.

Masih ingatkah kamu 2 Tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Juni. Kita berjanji untuk bertemu di Jalan Malioboro ketika aku sampai di Jogja. Aku menunggumu diujung jalan Malioboro ditemani senja yang mulai menghilang. Berisik lalu lintas dan ringkihan kuda dikanan-kiri tak menghancurkan keindahan Jogja sore itu. Candaan kekawan pun hanya sebatas pengindah.
Beberapa saat sebelum senja benar-benar hilang kau bilang maaf karna tertidur. Dan kau bilang tunggu.
Aku masih menanti dengan bau-bauan khas anak jalanan.

Kemudian ku dapati kau turun dari sebuah halte bus transjogja mengenakan kaos putih dan celana pendek berwarna abu-abu. Kau nampak cerah dengan senyuman khas mu itu.
Ah, aku sempat lupa bahkan aku belum menyentuh air untuk mandi. Hanya sisa-sisa bekas wudhu setelah ashar yang menempel badan. Tak ku rapikan pakaianku. Tak ku sapu dengan bedak sedikitpun wajah kusamku itu. Aku malu. Namun apalah dayaku karna kau telah dihadapanku.

Apakah kau tau sayang, saat kau mengajakku duduk dan kita berbincang adalah hal indah yang ingin ku kenang selamanya? Aku bahkan tak memperhatikan apapun yang ada disekelilingku. Aku tak memperhatikan berapa banyak orang yang berlalu-lalang didepan kita. Aku tak memperhatikan bahwa senja telah hilang termakan waktu. Aku terlalu larut dalam kamu, kita.
Aku bahagia sayang, bahagia karna kau sempatkan bertemu disela kesibukanmu. Aku bahagia karna kamu yang menginginkan kita untuk bertemu.

Mungkin pertemuan kita di Jogja itu sederhana, namun sangat istimewa. Hingga ingin ku ukir pada setiap permukaan bintang sebagai arca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar